A. PENDAHULUAN
Filsafat adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok
orang yang merupakan konsep dasar mcngenai kehidupan yang dicita-citakan.
Filsafat juga diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang sadar dan dewasa
dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan ingin melihat dari segi
yang luas dan menyeluruh dengan segala hubungan.
Pendidikan adalah upaya mengembangkan potensi-potensi
manusiawi peserta didik baik potensi fisik, potensi cipta, rasa, maupun
karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan
hidupnya. Filsafat pendidikan adalah filsafat yang digunakan dalam studi
mengenai masalah-masalah pendidikan. Filsafat pendidikan merupakan terapan dari
filsafat umum, maka salama membahas filsafat pendidikan akan berangkat dari
filsafat. Dalam arti, filsafat pendidikan pada dasarnya menggunakan cara kerja
filsafat dan akan menggunakan hasil-hasil dari filsafat, yaitu berupa hasil
pemikiran manusia tentang realitas, pengetahuan, dan nilai. Dalam filsafat
terdapat berbagai mazhab, aliran-aliran, seperti materialisme, idealisme,
realisme, pragmatisme, dan lain-lain. Karena filsafat pendidikan merupakan
terapan dari filsafat, sedangkan filsafat beraneka ragam alirannya, maka dalam
filsafat pendidikan pun kita akan temukan berbagai aliran. Pelompokkan filsafat
pendidikan digolongkan dua kelompok besar, yaitu filsafat pendidikan “progresif” dan filsafat pendidikan “ Konservatif”. Yang pertama didukung oleh
filsafat pragmatisme dari John Dewey, dan romantik naturalisme dari Roousseau.
Yang kedua didasari oleh filsafat idealisme, realisme humanisme (humanisme
rasional), dan supernaturalisme atau realisme religius. Filsafat-filsafat
tersebut melahirkan filsafat pendidikan esensialisme, perenialisme, dan
sebagainya.
Tujuan filsafat pendidikan memberikan inspirasi bagaimana
mengorganisasikan proses pembelajaran yang ideal. Teori pendidikan bertujuan
menghasilkan pemikiran tentang kebijakan dan prinsip-rinsip pendidikan yang
didasari oleh filsafat pendidikan. Praktik pendidikan atau proses pendidikan
menerapkan serangkaian kegiatan berupa implementasi kurikulum dan interaksi
antara guru dengan peserta didik guna mencapai tujuan pendidikan dengan
menggunakan rambu-rambu dari teori-teori pendidikan.
B. PEMBAHASAN
Esensialisme adalah pendidikan yang di dasarkan kepada nilai-nilai
kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia. Esensialisme muncul pada zaman Renaissance dengan
ciri-ciri utama yang berbeda dengan progresivisme. Perbedaannya yang utama
ialah dalam memberikan dasar berpijak pada pendidikan yang penuh fleksibilitas,
di mana serta terbuka untuk perubahan, toleran dan tidak ada keterkaitan dengan
doktrin tertentu. Esensialisme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada
nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama yang memberikan kestabilan
dan nilai-nilai terpilih yang mempunyai tata yang jelas.
Idealisme
dan realisme adalah aliran filsafat yang membentuk corak esensialisme. Dua
aliran ini bertemu sebagai pendukung esensialisme, akan tetapi tidak lebur
menjadi satu dan tidak melepaskan sifatnya yang utama pada dirinya
masing-masing.
Dengan demikian Renaissance adalah pangkal sejarah timbulnya konsep-konsep pikir yang disebut esensialisme, karena itu timbul pada zaman itu, esensialisme adalah konsep meletakkan sebagian ciri alam pikir modern. Esensialisme pertama-tama muncul dan merupakan reaksi terhadap simbolisme mutlak dan dogmatis abad pertengahan. Maka, disusunlah konsep yang sistematis dan menyeluruh mengenai manusia dan alam semesta, yang memenuhi tuntutan zaman. Beberapa tokoh dalam aliran ini: william C. Bagley (1874-1946), George Wilhelm Friedrich Hegel (1770 – 1831), Thomas Briggs, Frederick Breed dan Isac L. Kandell.
Dengan demikian Renaissance adalah pangkal sejarah timbulnya konsep-konsep pikir yang disebut esensialisme, karena itu timbul pada zaman itu, esensialisme adalah konsep meletakkan sebagian ciri alam pikir modern. Esensialisme pertama-tama muncul dan merupakan reaksi terhadap simbolisme mutlak dan dogmatis abad pertengahan. Maka, disusunlah konsep yang sistematis dan menyeluruh mengenai manusia dan alam semesta, yang memenuhi tuntutan zaman. Beberapa tokoh dalam aliran ini: william C. Bagley (1874-1946), George Wilhelm Friedrich Hegel (1770 – 1831), Thomas Briggs, Frederick Breed dan Isac L. Kandell.
Pandangan Ontologi
Essentialisme
1.
Sintesa ide idealisme dan realisme tentang hakikat realita berarti
essensialisme mengakui adanya realita obyektif di samping pre-determinasi,
supernatural dan transcendal.
2.
Aliran ini dipengaruhi penemuan-penemuan ilmu pengetahuan modern baik Fisika
maupun Biologi. Karena itu realita menurut analisa ilmiah dapat dihayati dan
diterima oleh Essensialisme. Jadi, Semesta ini merupakan satu kesatuan yang
mekanis, menurut hukum alam obyektif (Kausalitas). Manusia adalah bagian alam
semesta dan terlihat, tunduk pada hukum alam.
3.
Penapsiran Spiritual atas sejarah. Teori filsafat Heggel yang mensitesakan
science dengan religi dalam kosmologi, berarti sebagai interpretasi sepiritual
atas sejarah perkembangan realita semesta. Hukum apakah yang mengatur tiap fase
perubahan dan tiap peristiwa sejarah, perubahan-perubahan social, dijawab
problem itu secara prinsip: “Bahwa sejarah itu adalah pikiran Tuhan – pikiran
yang di ekspresikan, dinamika abadi yang merubah dunia, yang mana ia secara
sepiritual adalah realitas”.
4.
Faham Makrokosmos dan Mikrokosmos. Makrokosmos adalah keseluruhan alam semesta
raya dalam suatu deign dan kesatuan menurut teori kosmologi. Mikrokosmos ialah
bagian tunggal, suatu fakta yang terpisah dari keseluruhan itu, baik pada
tingkat umum, pribadi manusia, ataupun lembaga.
Pandangan Epistemologi Essentialisme
Teori kepribadian manusia sebagai refleksi Tuhan adalah jalan untuk mengerti
epistemologi Essentialisme. Sebab, jika manusia mampu menyadari realita dirinya
sebagai mikrokosmos dalam makrokosmo, maka manusia pasti mengetahui dalam
tingkat/kualitas apa rasionya mampu memikirkan kesemestaan itu. Dari
berdasarkan kualitas itulah dia memproduksi secara tepat pengetahuannya dalam
bidang-bidang: Ilmu alam, Biologi, Sosial, Estetika, dan Agama.
1. Kontraversi jasmaniah-rohaniah
Perbedaan
Idealisme dengan realisme ialah karena yang pertama menganggap bahwa rohaniah
adalah kunci kesadaran tentang realita. Manusia hanya mengetahu melalui ide
atau rohaniah. Sebaliknya realis berpendapat bahwa kita hanya mengetahui
sesuatu realita di dalam dan melalui jasmani
2. Pengetahuan
a. Idealisme
• Kita hanya mengerti rohani
kita sendiri. Tetapi pengertian ini memberi kesadaran untuk mengerti realita
yang lain (Personalisme)
• Menurut Hegel: “Substansi
mental tercermin pada hukum logika (Mikrokosmos) dab hukum alam (Makrokosmos).
Hukum dialegtika berfikir, berlaku pula hukum perkembangan sejarah dan kebudayaan
manusia (Teori Dinamis).
• Saya sebagai finite being
(Makhluk terbatas) mengetahui hukum dan kebenaran universal sebagai realisasi
resonasi jiwa saya dengan Tuhan. (Teori Absolutisme)
b. Realisme
Realisme dalam pengetahuan sangat dipengaruhi oleh Newton
dengan ilmu pengetahuan alamnya, cara menafsirkan manusia dalam realisme
adalah:
• Teori Associationisme: Teori ini sangat dipengaruhi
oleh filsafat empirisme John Locke, atau ide-ide dan isi jiwa adalah asosiasi
unsure-unsur penginderaan dan pengamatan. Penganut teori ini juga menggunakan
metode introspeksi yang dipakai oleh kaum idealis (T.H. Green)
• Teori Behaviorisme: Aliran behaviorisme berkesimpulan
bahwa perwujudan kehidupan mental tercermin pada tingkah laku.
• Teori Connectionisme: Teori Connectionisme menyatakan
semua makhluk hidup, termasuk manusia terbentuk tingkah lakunya oleh pola-pola
connections between (Hubungan-hubungan antara) stimulus (S) dan Respone (R).
Pandangan Axiologi
Essentialisme
Pandangan ontologi dan epistemologinya amat mempengaruhi pandangan axiology
ini. Bagi aliran ini, nilai-nilai, seperti juga kebenaran berakar dalam dan
berasal dari sumber objektif. Watak sumber ini dari mana nilai-nilai berasal,
tergantung pada pandangan-pandangan idealisme dan realisme, sebab Essentialisme
terbina oleh kedua sayap tersebut.
Teori Nilai
1.
Menurut Idealisme
a.
Idealisme: “Menurut aliran ini bahwa hukum etika adalah
kosmos, karena itu seseorang dikatakan baik hanya jika ia secara active berada
di dalam dan melaksanakan hukum-hukum itu”.
b.
Idealisme Modern: “Idealisme lebih di ungkapkan oleh E. Kant: Bahwa manusia
yang baik adalah manusia yang bermoral”.
c.
Teori Sosial Idealisme: “Disini E. Kant menekankan akan
adanya rasa sosialis, kekluargaan, patriotisme, dan nasionalisme. Yang dimaksud
E. Kant adalah adanya kemerdekaan individu agar bisa bersosialisasi dengan
manusia lainnya.
d.
Teori Estetika: “Bahwa yang disebut nilai adalah suatu keindahan” (E. Kant).
2. Menurut Realisme
a.
Etika Determinisme: “Semua unsur semesta, termasuk manusia
adalah satu kesatuan dalam satu rantai yang tak berakhir dan dalam kesatuan
hukum kausalitas. Seseorang tergantung seluruhnya pada sebab-akibat kodrati itu
dan yang menentukan keadaannya sekarang, baik ataupun buruk.
b.
Teori Sosial: Teori ini lebih menekankan kepada unsure ekonomi, social, politi
dan Negara. Free man (Bertrand Russel). Dan lebih menekankan kepada kehidupan
sekarang.
c.
Teori Estetika: Menurut paham ini bahwa keindahan itu tidak
hanya sesuatu yang bagus, namun ada pula yang buruk.
Prinsip
dan karakteristik essensialisme
Aliran filsafat essensialisme pertama kali muncul sebagai reaksi atas
simbolisme mutlak dan dogmatisme abad pertengahan. Filsafat ini menginginkan
agar manusia kembali kepada kebudayaan lama karena kebudayaan lama telah banyak
melakukan kebaikan untuk manusia. Esesensialisme modern
dalam pendidikan adalah gerakan pendidikan yang memprotes terhadap skeptisisme
dan sinisme dari gerakan Progresisvisme terhadap nilai-nilai yang
tertanam dalam warisan budaya/sosial. Menurut Esesensialisme, nilai-nilai yang
tertanam dalam warisan budaya/sosial adalah nilai-nilai kemanusiaan yang
terbentuk secara berangsur-angsur dengan melalui kerja keras dan susah payah
selama beratus tahun, dan di dalamnya telah teruji dalam gagasan-gagasan dan
cita-cita yang telah teruji dalam perjalanan waktu. Dari paparan diatas dapat
disimpulkan bahwa prinsip-prinsip Essensialisme adalah :
1). Esensialisme berakar pada ungkapan realisme objektif
dan idealisme objektif yang moderen, yaitu alam semesta diatur oleh hukum alam
sehingga tugas manusia memahami hukum alam adalah dalam rangka penyesuaian diri
dan pengelolaannya.
2). Sasaran pendidikan adalah mengenalkan siswa pada
karakter alam dan warisan budaya. Pendidikan harus dibangun atas
nilai-nilaiyang kukuh, tetap dan stabil
3). Nilai (kebenaran bersifat korespondensi ).berhubungan
antara gagasan dengan fakta secara objekjtif.
4). Bersifat konservatif (pelestarian budaya) dengan
merefleksikan humanisme klasik yang berkembang pada zaman renaissance.
Ciri-ciri
Filsafat Pendidikan Esesensialisme, yang disarikan oleh William C. Bagley
adalah sebagai berikut :
1) Minat-minat yang kuat dan tahan lama
sering tumbuh dari upaya-upaya belajar awal yang memikat atau menarik perhatian
bukan karena dorongan dari dalam jiwa.
2) Pengawasan, pengarahan, dan bimbingan orang yang
belum dewasa adalah melekat dalam masa balita yang panjang atau keharusan
ketergantungan yang khusus pada spesies manusia.
3) Oleh karena kemampuan untuk mendisiplinkan diri
harus menjadi tujuan pendidikan, maka menegakkan disiplin adalah suatu cara
yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut. Di kalangan individu maupun bangsa,
kebebasan yang sesungguhnya selalu merupakan sesuatu yang dicapai melalui
perjuangan, tidak pernah merupakan pemberian.
4) Esesensialisme menawarkan teori yang kokoh kuat
tentang pendidikan, sedangkan sekolah-sekolah pesaingnya (progresivisme) memberikan
sebuah teori yang lemah. Apabila terdapat sebuah pertanyaan di masa lampau
tentang jenis teori pendidikan yang diperlukan sejumlah kecil masyarakat
demokrasi di dunia, maka pertanyaan tersebut tidak ada lagi pada hari ini.
Pandangan
Esensialisme di Bidang Pendidikan
Idealisme, sebagai filsafat hidup, memulai tinjauannya
mengenai pribadi individu dengan menitik beratkan pada aku. Menurut idealisme,
bila seorang itu belajar pada taraf permulaan adalah memahami akunya sendiri,
terus bergerak keluar untuk memahami dunia obyektif. Dari mikrokosmos menuju ke
makrokosmos. Segala pengetahuan yang dicapai oleh manusia melalui indera
merperlukan unsur apriori, yang tidak didahului oleh pengalaman lebih dahulu.
Bila orang berhadapan dengan benda-benda, tidak berarti bahwa mereka itu sudah
mempunyai bentuk, ruang dan ikatan waktu. Bentuk, ruang dan waktu sudah ada
pada budi manusia sebelum ada pengalaman atau pengamatan. Jadi, apriori yang
terarah bukanlah budi kepada benda, tetapi benda-benda itu yang terarah kepada
budi. Budi membentuk, mengatur dalam ruang dan waktu.
Dengan mengambil landasan pikir tersebut, belajar dapat
didefinisikan sebagai jiwa yang berkembang pada sendirinya sebagai substansi
spiritual. Jiwa membina dan menciptakan diri sendiri. Pandangan-pandangan
realisme mencerminkan adanya dua jenis determinasi mutlak dan determinasi
terbatas:
1. Determinisme mutlak,
menunjukkan bahwa belajar adalah mengalami hal-hal yang tidak dapat
dihalang-halangi adanya, jadi harus ada, yang bersama-sama membentuk dunia ini.
Pengenalan ini perlu diikuti oleh penyesuaian supaya dapat tercipta suasana
hidup yang harmonis.
2. Determinisme
terbatas, memberikan gambaran kurangnya sifat pasif mengenai belajar. Bahwa
meskipun pengenalan terhadap hal-hal yang kausatif di dunia ini berarti tidak
dimungkinkan adanya penguasaan terhadap mereka, namun kemampuan akan pengawas yang diperlukan.
Pada prinsipnya, proses
belajar menurut Essensialisme adalah melatih daya jiwa potensial yang sudah ada
dan proses belajar sebagai proses absorbtion (menyerap) apa yang berasal dari
luar. Yaitu warisan-warisan sosial yang disusun dalam kurikulum
tradisional, dan guru berfungsi sebagai perantara.
2.
Pandangan Essensialisme Mengenai Kurikulum
Beberapa tokoh
idealisme memandang bahwa kurikulum itu hendaklah berpangkal pada landasan
idiil dan organisasi yang kuat. Kurikulum itu bersendikan alas fundamen
tunggal, yaitu watak manusia yang ideal dan ciri-ciri masyarakat yang ideal.
Kegiatan dalam pendidikan perlu disesuaikan dan ditujukan kepada yang serba
baik. Atas ketentuan ini kegiatan atau keaktifan anak didik tidak terkekang,
asalkan sejalan dengan fundamen-fundamen yang telah ditentukan.
Menurut
Essensialisme: “Kurikulum yang kaya, yang berurutan dan sistematis yang
didasarkan pada target yang tidak dapat dikurangi sebagai suatu kesatuan
pengetahuan, kecakapan- kacakapan dan sikap yang
berlaku di dalam kebudayaaan yang demokratis.
Kurikulum dibuat memang sudah didasarkan pada urgensi yang ada di dalam
kebudayaan tempat hidup si anak”.
3.
Peranan Sekolah menurut Essensialisme
Sekolah
berfungsi sebagai pendidik warganegara supaya hidup sesuai dengan
prinsip-prinsip dan lembaga-lembaga sosial yang ada di dalam masyarakatnya
serta membina kembali tipe dan mengoperkan kebudayaan, warisan sosial,
dan membina kemampuan penyesuaian diri individu kepada masyarakatnya
dengan menanamkan pengertian tentang fakta-fakta, kecakapan-kecakapan dan ilmu
pengetahuan.
4.
Penilaian Kebudayaan menurut Essensialisme
Essensialisme sebagai
teori pendidikan dan kebudayaan melihat kenyataan bahwa lembaga-lembaga
dan praktik-praktik kebudayaan modern telah gagal dalam banyak hal untuk
memenuhi harapan zaman modern. Maka untuk menyelamatkan manusia dan
kebudayaannya, harus diusahakan melalui pendidikan.
5.
Teori Pendidikan
a. Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan adalah menyampaikan warisan budaya dan sejarah melalui suatu
inti pengetahuan yang telah terhimpun, yang telah bertahan sepanjang waktu dan
dengan demikian adalah berharga untuk diketahui oleh semua orang. Pengetahuan
ini diikuti oleh keterampilan. Keterampilan-keterampilan, sikap-sikap, dan
nilai-nilai yang tepat, membentuk unsur-unsur yang inti (esensial) dari sebuah
pendidikan. Pendidikan bertujuan untuk mencapai standar akademik yang tinggi,
pengembangan intelek atau kecerdasan.
b.
Metode Pendidikan
1) Pendidikan berpusat pada guru (teacher
centered).
2) Umumnya diyakini bahwa pelajar
tidak betul-betul mengetahui apa yang diinginkan, dan mereka haru dipaksa
belajar. Oleh karena itu pedagogi yang bersifat lemah-lembut harus dijauhi, dan
memusatkan diri pada penggunaan metode-metode tradisional yang tepat.
3) Metode utama adalah latihan
mental, misalnya melalui diskusi dan pemberian tugas; dan penguasan
pengetahuan, misalnya melalui penyampaian informasi dan membaca.
c. Kurikulum
1) Kurikulum berpusat pada mata
pelajaran yang mencakup mata-mata pelajaran akademik yang pokok.
2) Kurikulum Sekolah Dasar ditekankan
pada pengembangan keterampilan dasar dalam membaca, menulis, dan matematika.
3) Kurikulum Sekolah Menengah
menekankan pada perluasan dalam mata pelajaran matematika, ilmu kealaman, humaniora,
serta bahasa dan sastra. Penguasaan terhadap mata-mata pelajaran tersebut
dipandang sebagai suatu dasar utama bagi pendidikan umum yang diperlukan untuk
dapat hidup sempurna. Studi yang ketat tentang disiplin tersebut akan dapat
mengembangkan kesadaran pelajar, dan pada saat yang sama membuat mereka
menyadari dunia fisik yang mengitari mereka. Penguasaan fakta dan konsep-konsep
pokok dan disiplin-disiplin yang inti adalah wajib.
d. Pelajar
Siswa adalah makhluk rasional dalam kekuasaan fakta
dan keterampilan-keterampilan pokok yang siap melakukan latihan-latihan
intelektif atau berpikir. Sekolah bertanggungjawab atas pemberian pelajaran
yang logis atau dapat dipercaya. Sekolah berkuasa untuk menuntut hasil belajar
siswa.
e. Pengajar
1) Peranan guru kuat dalam mempengaruhi dan
mengawasi kegiatan-kegiatan di kelas.
2) Guru berperanan sebagai sebuah contoh dalam
pengawalan nilai-nilai dan penguasaan pengetahuan atau gagasan-gagasan.
C. KESIMPULAN
Esesensialisme
merupakan gerakan pendidikan yang bertumpu pada mazhab filsafat idealisme dan
realisme. Meskipun kaum Idealisme dan kaum Realis berbeda pandangan
filsafatnya, mereka sepaham bahwa:
a. Hakikat yang mereka anut memberi makna
pendidikan bahwa anak harus menggunakan kebebasannya, dan ia memerlukan
disiplin orang dewasa untuk membantu dirinya sebelum dia sendiri dapat
mendisiplinkan dirinya; dan
b. Manusia dalam memilih suatu kebenaran untuk
dirinya sendiri dan lingkungan hidupnya mengandung makna pendidikan bahwa
generasi muda perlu belajar untuk mengembangkan diri setinggi-tingginya dan
kesejahteraan sosial.
Bagi aliran ini
“Education as Cultural Conservation”, pendidikan sebagai pemelihara kebudayaan.
Karena dalil ini maka aliran Essentialisme dianggap para ahli sebagai
“Conservative road to culture”, yakni aliran ini ingin kembali kepada
kebudayaan lama, warisan sejarah yang telah membuktikan kebaikan-kebaikannya
bagi kehidupan manusia. Essentialisme percaya bahwa pendidikan harus didasarkan
kepada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia.
Kebudayaan yang mereka wariskan kepada kita hingga sekarang, telah teruji oleh
segala zaman, kondisi dan sejarah. Kebudayaan demikian, ialah essensia yang
mampu pula mengemban hari kini dan masa depan umat manusia. Kebudayaan sumber
itu tersimpul dalam ajaran para filosof ahli pengetahuan yang agung, yang
ajaran dan nilai-nilai ilmu mereka bersifat kekal, monumental. Essensialisme
merupakan paduan ide-ide filsafat Idealisme dan Realisme. Praktek filsafat
pendidikan essensialisme dengan demikian menjadi lebih kaya dibandingkan jika
ia hanya mengambil posisi sepihak dari salah satu aliran yang ia sintesiskan.
Sintesa idealisme dan
realisme tentang hakikat realita berarti essensisalime mengakui adanya realita
obyaktif di samping pre-determinasi, supernatural, dan transcendal.
Tidak semua idealis dan
realis dapat digolongkan essensialis dalam prinsip pendidikan. Namun
essensialis merupakan pemahaman yang bersumber dari pendekatan idealis dan
realis atau kombinasi kedua aliran itu. Pada prinsipnya, proses belajar menurut
Essensialisme adalah melatih daya jiwa potensial yang sudah ada dan proses
belajar sebagai proses absorbtion (menyerap) apa yang berasal dari luar. Yaitu
warisan-warisan sosial yang disusun dalam kurikulum tradisional, dan guru
berfungsi sebagai perantara.
Menurut Essensialisme:
“Kurikulum yang kaya, yang berurutan dan sistematis yang didasarkan pada target
yang tidak dapat dikurangi sebagai suatu kesatuan pengetahuan, kecakapan-kacakapan
dan sikap yang berlaku di dalam
kebudayaaan yang demokratis. Kurikulum dibuat memang sudah
didasarkan pada urgensi yang ada di dalam kebudayaan tempat hidup si anak”.
Peranan Sekolah
berfungsi sebagai pendidik warganegara supaya hidup sesuai dengan
prinsip-prinsip dan lembaga-lembaga sosial yang ada di dalam masyarakatnya
serta membina kembali tipe dan mengoperkan kebudayaan, warisan sosial, dan
membina kemampuan penyesuaian diri individu kepada masyarakatnya dengan
menanamkan pengertian tentang fakta-fakta, kecakapan-kecakapan dan ilmu
pengetahuan.
Kebudayaan menurut
Essensialisme sebagai teori pendidikan dan kebudayaan melihat kenyataan bahwa
lembaga-lembaga dan praktik-praktik kebudayaan modern telah gagal dalam banyak
hal untuk memenuhi harapan zaman modern. Maka untuk menyelamatkan manusia dan
kebudayaannya, harus diusahakan melalui pendidikan.
Pendidikan menurut
Essensialisme adalah membantu peserta didik berpikir rasional, tidak terlalu
berakar pada masa lalu, memperhatikan hal-hal yang kontemporer, memuatkan
keunggulan, bukan kecukupan pemilikan nilai-nilai tradisional. Teori ini
mementingkan mata pelajaran dari pada proses.
Banyak aliran aliran filsafat pendidikan, masing-masing
memiliki keunggulan dan kelemahan, oleh karena itu dalam praktek pengembangan
kurikulum penetapan aliran filsafat cenderung dilakukan secara efektif untuk
lebih mengkompromikan dan mengakomodasikan berbagai kepentingan yang terkait
dengan pendidikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar